Wednesday, February 17, 2010

PORIDGEMAN (Poor Rich Man)

Umumnya orang kaya dilihat dari duit, duit, dan duit. Karena banyak duit dapat berarti suatu harga diri. Suatu status. Suatu kemapanan, Suatu kemakmuran. Ya, memang begitulah. Orang banyak duit berarti pelayanan kelas A, Orang menengah duit berarti pelayanan kelas B, Orang sedikit duit berarti pelayanan kelas C. Orang sangat minim duit berarti swalayan. Tidak ada yang gratis, ya memang sudah seharusnya demikian. Siapakah orang yang benar-benar kaya ? dan Siapakah orang yang benar-benar miskin ? Kaya-miskin seseorang bukan selalu dilihat dari banyaknya duit, tetapi orang jaman sekarang mulai menjadi rabun dalam melihat orang yang sebenarnya. Orang sifat buruk tetapi banyak duit berarti baik. Orang sifat baik tetapi sedikit duit berarti buruk.

Seperti mencari pasangan hidup jika hanya melihat duit saja mudah sekali tertipu, terutama perempuan, setelah jadi eee...ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi harus bagaimana lagi lha wong sudah "jalan". Terpaksa menerima keadaan, dan menjalani kehidupan seolah-olah kehidupan yang bahagia. Seperti pada saat saya pertama kali memilih jurusan, dengan pengetahuan cekak, pikiran idealis, bertanya jurusan apakah yang paling baik dan menjanjikan peluang kerja. Kemudian saya kuliah selama 10 semester akhirnya lulus dengan ipk 2.30 dapat selembar ijazah. 
Dengan bangga mencari kerja, menulis surat lamaran kerja, mengirimkan surat lamaran kerja, menghadiri setiap panggilan wawancara kerja dengan harapan mendapat gaji besar. Ratusan surat lamaran terkirim ke berbagai perusahaan. Akhirnya diterima di suatu perusahaan, masuk kerja, dengar sana, dengar sini katanya kerjanya berat, gaji kecil, tidak ada jenjang karir, bos galak dan lain sebagainya. Lalu cari kerja lagi dengan harapan gaji lebih besar, ternyata diterima. Kerja satu bulan, dengar sana, dengar sini katanya komisinya kecil, tidak ada fasilitas ini dan itu, menjadi ragu-ragu, lalu cari kerja lagi. 
Diterima di perusahaan yang menjual bahan kimia dengan gaji yang cukup memuaskan, kerjanya keliling cari pembeli, cuma prospek-prospek saja, gaji habis di biaya transport, makan, dan obat masuk angin, nggak ada yang beli, target tidak tercapai, terima nasib diberhentikan. Pekerjaan berikutnya dengan gaji yang sangat memuaskan, kerjanya juga keliling cari pembeli, ada yang beli dalam jumlah sedikit, target tidak tercapai, terima nasib diberhentikan. Diterima lagi, jadi marketing angkat telpon, gaji lumayan, makan dalam, dengar sana, dengar sini katanya nggak ada jenjang karir, menjadi kecewa, terpaksa harus menjalani pekerjaan dengan berat hati selama dua bulan lebih. 
Kemudian dipanggil wawancara dan diterima di perusahaan besar dan terkenal, jadi marketing export dengan gaji yang lumayan besar, kerja selama dua bulan dan akhirnya jatuh sakit selama 2 tahun. Untungnya sembuh setelah 2 tahun, saran Dokter sudah boleh bekerja, lalu melamar kerja lagi, panggilan wawancara, dan diterima di perusahaan komputer. Tidak puas dengan gaji dan jenis pekerjaan, dua minggu kemudian langsung out. Tidak ada penghasilan, bingung mau minta uang ke orang tua, jadi sungkan, mau lamar kerja lagi sulit. Orang menilai saya terlalu ceroboh terburu-buru melepaskan pekerjaan sebelum ada pengganti pekerjaan.
Akhirnya yang terpikir adalah menerima les privat. Pada awalnya saya kurang suka mengajar privat, setelah beberapa waktu menekuni mengajar privat timbul rasa suka, ternyata ada keunikkan tersendiri dalam membimbing dan mengajar anak-anak. Dari mengajar anak-anak saya banyak menemukan pelajaran-pelajaran berharga. Pertama kali mengajar privat yang hanya ada dalam benak saya adalah mendapatkan uang, semakin banyak murid berarti semakin banyak uang. Jam les privat yang telah ditentukan 90 menit, tetapi seringkali yang namanya anak-anak waktu lesnya molor atau kurang. Beberapa pengajar privat umumnya, kelebihan waktu tetap diperhitungkan, ada juga yang memang berharap terjadi kelebihan waktu, supaya dapat tambahan duit. 
Sejak saat itu saya banyak belajar dan mengetahui apa yang dimaksud sebagai orang yang kaya. Cara pandang saya berubah, saya tidak lagi mengejar lowongan-lowongan kerja yang sangat menjanjikan. Mau tahu kelanjutannya ? 
Yang disebut kaya adalah:
1.Mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, memberikan pengetahuan dan inspirasi yang bermanfaat, sehingga mengubah kehidupan yang buruk menjadi kehidupan yang lebih baik.
2. Mampu berbagi kegembiraan walaupun dengan anak-anak.
3. Penghasilan pas-pasan tetapi tetap tekun, disiplin, dan rajin bekerja, dapat memperbaiki nasib secara perlahan-lahan. 
4. Bangkit dari kegagalan-kegagalan artinya mau belajar dari kegagalan.
Yang disebut miskin adalah:
1. Gaya hidup boros
2. Malas bekerja, putus asa.
3. Merasa paling pintar sehingga tidak mau belajar.
4. Menghina orang yang kurang mampu

Dengan kemampuan apa adanya, dapat memperbaiki, mengubah kehidupan banyak orang, dari keadaan yang buruk ke arah kehidupan yang lebih baik. Dari yang tidak punya tujuan hidup menjadi punya tujuan hidup. Apakah orang ini miskin atau kaya ?! 

No comments:

Post a Comment