Wednesday, February 17, 2010

SI B YANG PENGECUT DAN SI A

Persoalan dalam hidup kita adalah kita sendirilah yang menyebabkannya, dan kita sendirilah yang membuat masalah tersebut terjadi pada diri kita. Setiap orang punya pemikiran, perasaan, pendapat, sudut pandang yang berbeda, dan hal ini tidak bisa dipaksakan. Sebagai contoh: kita cenderung untuk berdebat terhadap hal-hal yang menurut kita benar, dan merasa diri kita paling benar, dengan tujuan untuk memenangkan perdebatan, kita ingin mengubah dan memaksakan pemikiran yang benar menurut kita kepada orang lain, dan orang lain harus menerimanya. Jika tidak, maka dalam hati kita timbul perasaan tidak suka, emosi, kecewa, dan amarah terhadap orang tersebut, apalagi jika orang tersebut dapat mendebat balik, sehingga kita mengalami kekalahan, atau paling buruk terjadi adu mulut mempertahankan pendapat masing-masing, dan jika keadaan sudah memuncak maka akan timbul kekerasan karena tidak dapat mengendalikan emosi. Saya sering melihat orang-orang dewasa yang tampaknya sudah dibilang dewasa, tetapi sering melakukan hal tersebut diatas.

Mengubah sudut pandang masing-masing orang atau menyadarkan seseorang adalah hal yang sangat sulit dilakukan dan merupakan pekerjaan yang sia-sia saja jika caranya adalah hanya bicara dan berdebat .Pikiran kita hanya terarah pada bagaimana menemukan kata-kata yang “pintar” dengan tujuan memenangkan omongan sehingga orang tersebut tidak dapat membantah lagi atau dengan terpaksa menerimanya dengan setengah hati. Disinilah letak keegoisan!! Saya sering melihat orang yang dikatakan dewasa, punya pengetahuan banyak, yang pandai bicara, pandai memutarbalikkan kata-kata, pandai menyambung perkataan, pandai mendebat, tetapi orang itu dalam kehidupan sebenarnya hanyalah biasa-biasa saja, hanya pandai bicara tetapi tidak ada apa-apanya bahkan cenderung membual. Jika diberi pekerjaan tidak pernah beres, jika diminta untuk mempertanggung jawabkan pekerjaan atau omongan, maka orang ini cenderung menghindar dengan alasan-alasan yang tampak masuk akal. Kita sebut orang ini adalah pecundang.

Banyak pecundang terdapat disekitar kita. Ada orang dewasa yang merasa terganggu dengan hal-hal sepele, seperti orang lain tersebut sering bersin, sering buang ingus, sering batuk didekat kita, atau orang lain tersebut adalah orang yang aktif dan tidak bisa diam selalu menimbulkan bunyi, atau orang ngorok, tentu saja hal-hal kecil ini dapat sangat mengganggu kita jika dalam hati dan pikiran kita selalu dipenuhi perasaan curiga bahwa orang yang batuk tersebut sengaja, maka kita cenderung membalasnya. Memang ada yang disengaja dan ada juga yang tidak disengaja karena orang tersebut benar-benar batuk atau sakit batuk. Hal ini tidak dibicarakan tapi sering diam-diam dipersoalkan, seperti agenda tersembunyi, dan cenderung menimbulkan permusuhan dalam hati secara diam-diam.

Untuk memberi gambaran yang jelas adalah sebagai berikut seseorang bernama A dan B mereka sudah kenal beberapa bulan, tinggal dalam satu rumah penginapan, kamar mereka bersebelahan. Si A orangnya aktif, sering belajar dimalam hari sampai jam 1 pagi, membolak-balik buku, membaca sering mengeluarkan suara, sering batuk, dan bunyi kentutnya keras sekali. Si B orangnya kerja kantoran, pergi pagi pulang sore, kerjaan pada waktu luang main game, dan kalau batuk ditahan, kentut ditahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, meletakkan benda-benda perlahan-lahan supaya tidak menimbulkan bunyi berisik.

Dua keadaan ini berlangsung terus menerus berbulan-bulan hingga suatu saat si B ini kurang suka dan merasa terganggu dengan kebiasaan si A, tetapi si B ini selalu memendam perasaan terganggunya ini. Tetapi si B tidak berani berterus terang mengungkapkan masalahnya, dan secara diam-diam menyindir kebiasaan si A, tetapi si A tidak tahu-menahu maksud si B ingin mengkritik kebiasaannya. Ketidaktahuan si A ini membuat si B frustasi, orang ini sudah disindir beberapa kali kok tidak mengerti. Karena tidak suka dan diabaikan maka si B ini menjadi kecewa dan timbul amarah sehingga mencari cara bagaimana caranya supaya si A diusir saja dari rumah penginapan. Kemudian si B mulai memfitnah si A, caranya dengan mengadu domba si A dengan penghuni lain dalam rumah penginapan itu.

Jika ada teman si B berkunjung ke penginapan dan pada saat itu si A juga ada di kamar sebelah, maka si B ini berusaha menjelek-jelekkan si A dihadapan temannya dengan suara agak keras tanpa menyebutkan nama, dengan maksud supaya si A tahu kalau sedang disindir, si B mengajak temannya membuat suara berisik dengan menggedor-gedor tembok atau lantai supaya si A terganggu. Keadaan ini berlangsung setiap kali teman si B dari luar atau dalam penginapan berkunjung ke kamar si B. Lama kelamaan ulah si B ini diketahui si A, tetapi si A merasa aneh dengan sikap si B ini karena selama ini mereka berteman dan berbicara baik-baik saja. Selidik punya selidik akhirnya si A mengetahui bahwa si B ini ada rasa kurang suka dengan si A, tapi entah apa dan mengapa, dan si A mengetahui bahwa selama ini si B sedang berusaha mengadu domba dirinya dengan penghuni rumah penginapan secara diam-diam, maupun dengan teman-teman yang sering berkunjung ke kamar si B, dengan cara memancing emosi si A.

Dari kejadian ini maka si A tahu bahwa si B bermaksud mencelakakan dirinya, maka dari sinilah timbul permusuhan antara si A dan si B. Inilah yang disebut sebagai masalah sepele menjadi masalah besar.

Dari cerita ini sebenarnya masalahnya sangat sederhana sekali, yang perlu dilakukan si B hanyalah berbicara sebagai teman, bahwa si B perlu tidur yang cukup supaya besok pagi dapat berangkat kerja dengan tubuh yang fit, bahwa selama ini dirinya merasa terganggu jika malam-malam si A berisik membolak-balik buku, membaca dengan suara yang keras. Dengan berbicara baik-baik berarti si B menghargai si A sebagai teman, dan si A akan menyadari bahwa kebiasaannya selama ini telah mengganggu temannya si B, maka si A akan meminta maaf dan berusaha mengatur waktunya supaya ia dapat membaca dengan bebas tanpa mengganggu si B di malam hari lagi, dan jika terpaksa membaca di malam hari, maka si A berusaha membaca dengan suara pelan dan membalik buku dengan pelan supaya tidak mengganggu si B yang sedang tidur. Dan pada akhirnya si A dan si B dapat terus berteman. Hal ini berarti menyelamatkan hubungan baik.

Masalah berisik yang disebabkan seseorang batuk, bersin, bersendawa (glegeken), bunyi kentut yang keras, maupun ngorok. Sebenarnya adalah hak asasi manusia, karena tiap manusia punya kondisi tubuh yang berbeda-beda, ada yang tubuhnya lemah, ada yang sakit menahun, ada yang mengalami gangguan lambung, gangguan pencernaan, serangan flu, alergi dan lain sebagainya, maka tubuh akan bereaksi terhadap gangguan-gangguan tersebut, ada yang dikeluarkan lewat bersin, batuk, lewat kentut yang mungkin sering menimbulkan bunyi yang keras. Tentunya anda sudah mengerti maksud saya, bahwa hal ini seperti kentut, batuk, bersin, sendawa tidak boleh ditahan atau istilah jawanya diempet/ngempet.

Tidak ada alasan apapun yang mengatakan bahwa demi kesopanan seseorang harus ngempet atau menahan kentut, bersin, sendawa, karena bersin, kentut, sendawa tidak bisa ditahan, jika mau keluar ya keluar apapun caranya. Usaha untuk menahannya atau mencegah kentut, bersin, sendawa tersebut keluar akan dapat membahayakan kesehatan diri sendiri.

Dan lebih parahnya ada para orang tua, atau orang dewasa yang mengajarkan bahwa demi alasan kesopanan dan menghargai orang lain, menyuruh anaknya supaya menahan kentut, batuk, atau bersin, pada saat rapat, bertamu di rumah orang, acara-acara dimana banyak orang berkumpul, resepsi, dan sebagainya. Bersin, batuk, sendawa, atau kentut ini adalah peristiwa alami dan pasti keluar dari dalam tubuh secara alami juga. Yang tidak sopan adalah jika anda dengan sengaja mengarahkan bokong anda ke muka atau wajah orang lain untuk melepaskan kentut, jika anda dengan sengaja mengarahkan wajah anda dekat-dekat dengan wajah orang lain dan bersin di muka orang itu, jika anda dengan sengaja mengarahkan mulut anda saat bersendawa ke hidung orang lain. Ini yang dikatakan tidak sopan dan tidak menghargai orang lain.

Memang kentut dapat mengganggu orang lain karena baunya yang tidak enak. Tetapi pahamilah bahwa:
1.Orang yang kentut mungkin ada masalah dengan perutnya
2.Orang yang kentut mungkin orang tersebut kurang sehat pencernaannya
3.Orang yang kentut mungkin orang tersebut mengalami penyakit kronis pada perut sehingga harus terus kentut
4.Orang yang kentut mungkin orang tersebut baru melakukan operasi pembedahan perut atau usus, sehingga harus kentut dulu baru boleh minum atau makan, jika di langgar dapat membahayakan jiwa orang tersebut
5.Orang yang kentut mungkin orang tersebut dapat merasa enak perutnya jika kentut terus.

Memang bersin menimbulkan suara yang keras dan dapat mengagetkan orang di sekitar kita. Tetapi pahamilah bahwa:
1.Orang yang bersin mungkin hidungnya kemasukan bulu atau bakteri
2.Orang yang terus menerus bersin mungkin sakit flu
3.Orang yang bersin mungkin ada gangguan pernapasan
4.Orang yang terus menerus bersin mungkin alergi karena debu
5.Orang yang bersin mungkin terkena penyakit bronkhitis

Jadi disini perlu adanya pemahaman bahwa bersendawa, kentut, batuk, bersin adalah proses alami pada tubuh manusia atau makhluk hidup lain, dan merupakan hak paling asasi yang di miliki manusia atau makhluk hidup untuk memelihara kesehatan tubuhnya dan mempertahankan kelangsungan hidup, dengan cara membuang gas beracun, mengeluarkan benda asing, bakteri, debu, maupun penyakit dari dalam tubuh. Dengan menghargai dan memberi kesempatan orang untuk bersendawa, kentut, batuk, bersin, maka kita telah berbuat amal karena menolong orang membuang penyakit dan meningkatkan kesehatan tubuh, serta mempertahankan kelangsungan hidup orang tersebut. Cara beramal yang murah dan berarti.

Jika orang bersin atau batuk di buat-buat hanya untuk mengganggu anda. Maka saran saya adalah abaikan saja, tingkatkan konsentrasi anda sehingga anda akan menjadi tidak peduli dan lebih kebal terhadap gangguan tersebut. Abaikan saja tidak perlu membalas bersin atau batuknya, tetapi jika anda merasa hidung anda ingin bersin, ya bersinkan saja yang keras. Jika anda ada masalah dengan tenggorokan, atau anda ingin batuk, ya batuk saja dengan tanpa beban pikiran, bahwa anda harus membalas batuk atau bersin orang iseng tersebut. Santai aja coy...

Dari gambaran antara si A dan si B diatas menunjukkan bahwa banyak orang yang berperilaku seperti si B, cenderung bertindak sebagai pecundang atau pengecut. Mengapa? Karena orang tersebut tidak berani mengatakan masalah yang sebenarnya, tidak berani berterus terang. Orang tersebut lebih memilih gengsi karena hal sepele daripada menyelamatkan hubungan baik yang telah dibangun. Padahal dengan berani mengatakan masalah yang sebenarnya, dan berani berterus terang dapat menjernihkan masalah dengan lebih cepat, menimbulkan keterbukaan, menghindari permusuhan yang tidak perlu, dapat lebih saling mengenal satu dengan yang lain, dan dapat menyelamatkan hubungan baik dengan lebih efektif. 

No comments:

Post a Comment