Thursday, April 29, 2010

KUPU-KUPU MALAM

        Di keremangan malam lampu kota berkelap kelip, tampak disana duduk suatu kecantikan di pojok taman kota nan indah. Jalan ramai penuh mobil berkilat mewah berlalu lalang. Tiba-tiba salah satu merapat berhenti di tengah malam, kaca mobil terbuka dengan pandangan senyum mengembang, sambil melambaikan tangan meminta berdekatan, berbicara singkat memenuhi kesepakatan harga.
Tiba-tiba terbukalah pintu mengkilat itu, tanda boleh masuk boleh ikut. Melaju kencanglah sang mobil mengkilat menuju gedung bertingkat, tampak kotak-kotak kecil kamar dengan lampu bersinar lembut, menghiasi bagian samping gedung, menambah kehangatan suasana malam kelap kelip. Bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih berbulan madu, melewatkan suasana indah malam ramai, dalam kamar beraroma lavender, bergetar mencapai puncak kepuasan dunia. 
        Kecantikkan itu berganti dari satu pelukan ke pelukan lain, melewatkan malam-malam indah bertarif tinggi, memenuhi kebutuhan menghimpit kemiskinan. Perasaan jijik, benci diri seakan larut dalam keterpaksaan memenuhi pertanyaan dalam hati, bagaimana besok bisa makan, butuh biaya ini itu, bagaimana cara mencukupinya, mau bekerja pun tidak ada daya jual kemampuan untuk ditukar dengan gaji cukup. Tiada kemampuan, apa yang bisa dijual, kecuali kecantikan menggoda merasakan enaknya kelembutan kepada siapa saja yang mampu bayar. Sampai kapan kecantikan itu bertahan, semakin memudar ditelan waktu, hingga rusak dimakan usia. Semua kekayaan itu lambat laun terpakai habis, maka............sia-sialah hidup. 

2 comments:

  1. Kecantikan yang sangat menghancurkan.

    tankz yak, udah berkunjung ke dot Semarang.

    makasih

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentarnya. Kecantikannya yang menghancurkan atau wanita dibalik kecantikan yang menghancurkan?

    ReplyDelete