Friday, May 14, 2010

SALING MEMANGSA

Hutan subur tumbuhan berkuasa dimana-mana, pohon-pohon besar berakar kokoh menjulang menutupi kehidupan di bawahnya, burung-burung berterbangan hinggap di antara ranting-ranting kecil, bunga-bunga bermekaran di padang bunga, tersorot sinar surya hangat baru terbit di kejauhan timur. Air jernih seakan berkata kepada ikan-ikan danau, berenanglah sebebas mungkin melompatlah hai ikan-ikan. Sungguh indah pemandangan bercampur udara sejuk bergerak berhembus ringan begitu damai mengagumkan. Kekaguman semakin nyata dalam kebuasan mengerikan hewan-hewan saling memangsa. Ulat-ulat bulu mengukir dengan bengis daun-daun hijau segar, demi seni abstrak mengenyangkan memberikan harapan layu. Laba-laba merangkak berputar-putar bergelantungan pada seutas benang tipis, bergerak melingkar merajut bangun bersegi delapan lebih, saling terhubung merekatkan membentuk jaring rapi, menarik setiap kumbang sejenis hewan serangga kecil bersayap layaknya kepik, untuk sekedar berkunjung menempelkan kaki-kaki kecil menggoyang menggoda memanggil selera laba-laba lapar, bersama menikmati santap malam di bawah rembulan romantis. Macan loreng berjalan perlahan mengendap di antara lebatnya pepohonan, mata nakal itu mengamati sekelompok kijang berkumpul di kejauhan sedang berpose, tak kuasa menahan air liur menetes deras, sekejap berlari membidik mengunci sasaran kijang paling montok, kekacauan membuncah tak karuan berlari kencang menyelamatkan diri. Sesaat kijang montok merasakan nikmatnya gigi-gigi taring putih menancap menghujam dalam-dalam tanpa belas kasih, meronta semakin lemah dan lemah saja hingga pasrah menjadi santapan lezat macan loreng. Kerbau tertatih-tatih terluka setelah suatu pertarungan sengit, berjalan tak tentu arah tiba di suatu tempat terbuka gersang menyebarkan aroma darah segar, mengundang semangat burung-burung nasar untuk meluncur menuju kelezatan. Kerbau itu berserah menengadah ke langit biru, untuk bertemu Sang Pencipta. Sungai-sungai bening tenang melelapkan alligator gendut tertutup lumpur bagai batu berjaga waspada, lewatlah si tikus kecil mencari di lorong gelap menginjak suatu bantalan empuk nyaman, pikirnya ada makanan pengganjal perut, tanpa sadar segalanya menjadi gelap gulita, berteriak tak tertolong terkunyah diantara taring-taring tajam. Mengerikan sekali.

0 comments:

Post a Comment