Menerima les privat, bayangan saya pekerjaan mengajar privat adalah pekerjaan yang sangat mudah dan siapapun dapat melakukannya. Tetapi setelah menjalaninya ternyata tidaklah semudah yang saya bayangkan. Sebenarnya melakukan pekerjaan mengajar privat ini dalam keadaan terpaksa. Ada perasaan rendah diri juga, saat teman atau kenalan lama bertemu di mall, dan bertanya tentang pekerjaan. Yang lain kerja membawahi beberapa orang, yang lain menjadi wiraniaga yang selalu memenuhi target, yang lain bekerja sebagai eksekutif, dan lain sebagainya.
Eee... ternyata saya hanyalah seorang pengajar privat, pekerjaan yang tidak bergengsi. Percuma sekolah tinggi jika keluarnya hanya bekerja sebagai pengajar privat. Dengan berat hati saya lakukan pekerjaan tersebut, saya katakan bahwa mengajar privat hanya pekerjaan sampingan sambil mencari kerja, atau sedang mencari peluang usaha lain untuk menutupi gengsi.Setelah saya jalani selama beberapa waktu, timbul perasaan suka, melihat tingkah laku anak-anak yang unik, pertanyaan-pertanyaan di luar dugaan, bahkan ada pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh orang dewasa sekalipun, rasanya seperti mendapat teman baru walaupun hanya teman anak-anak. Saya menemukan bahwa mengajar privat ternyata bukan pekerjaan yang remeh, terlihat sangat remeh karena orang menganggapnya demikian, bahkan sebenarnya pekerjaan yang cukup sulit, karena kita berhubungan dengan manusia, bukan dengan mesin atau suatu sistem. Sesulit apapun masalah pada mesin masih dapat diperbaiki, tinggal ganti ini, ganti itu, sambung ini, sambung itu, semua sudah ada prosedur dan panduan cara menangani mesin yang bermasalah, demikian juga dengan sistem. Tetapi pada manusia sangat-sangat rumit, anda tentu sudah tahu, sudah pernah mengalami sendiri, dan sudah merasakan luar dalam, serumit apakah manusia itu. Jadi tidak perlu saya jelaskan lagi, karena anda lebih berpengalaman.
Saya pernah diminta mengajar seorang anak yang sangat bandel, sulit diatur, tidak mau belajar, tidak perhatian dengan pelajaran sama sekali, orang tua anak ini sudah terlalu capek menasehati, bahkan menyuruh saya untuk memukul anak ini jika malas belajar. Saya sadar berhadapan dengan permasalahan yang sulit antara anak dengan orang tua, dan saya sebagai pengajar privat dituntut untuk mampu mengubah anak ini menjadi rajin belajar, bukan nilai pelajarannya. Ternyata nilai pelajaran adalah prioritas kedua. Sebagai pengajar privat saya tidak berhak melakukan pemukulan walaupun telah mendapat ijin dari orang tua si anak. Orang tua mana yang tega, bersedia, dan menerima dengan lega melihat anak sendiri dipukul orang. Akhirnya saya melakukan pendekatan dengan cara lain.
Anak sangat berharga dan masa depan bagi orang tua. Seorang teman lama bercerita bahwa setelah punya anak, kehidupan terasa berbeda, saat keadaan sulit, banyak permasalahan terasa menyesakkan diluar, begitu pulang melihat anak, seperti baterai baru di charge. Saya tidak tahu perasaan apakah itu yang membuat kehidupan berbeda dengan adanya anak, karena saya belum pernah mengalami punya anak dan belum pernah menjadi orang tua.
Ada yang mau berbagi pengalaman ?
No comments:
Post a Comment